“The Photograph” Siap Tampil Berbeda
Di saat serbuan film Indonesia bergenre horor agak mereda, satu per satu film dari genre lain mulai bermunculan. Salah satunya adalah The Photograph yang rencananya bakal diputar mulai 5 Juli 2007 khusus di sejumlah bioskop tertentu di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
The Photograph dibuat dengan kesadaran penuh bahwa ini adalah sebuah film yang berbeda. “Ibaratnya sebuah kota dimana ada gedung-gedung dan jalan-jalan, kita juga butuh taman. Nah, dalam industri film juga begitu, taman itu adalah film-film yang berbeda ini yang bukan mainstream. Pada kenyataannya, ada segmentasi penonton tertentu yang khusus yang juga haus akan film-film yang berbeda,” tutur Nan Achnas, sutradara dan penulis cerita film ini dalam rilis persnya. Pemeran filmnya juga sadar akan hal itu. “Aku sangat sadar bahwa film ini berbeda, artinya bukan mainstream dan justru karena itu juga aku ambil peran ini karena memberikanku kesempatan besar untuk eksplorasi akting di film dengan genre yang berbeda,” kata Shanty yang lewat film ini untuk pertama kalinya menjadi pemeran utama. Selain Shanty, nama-nama lain yang ikutan muncul film ini antara lain Lim Kay Tong, Indy Barends, Lukman Sardi, Nicholas Saputra, Dorce Gamalama, dan Indra Bekti.
Asal tahu saja, proses pengerjaan film ini terbilang penuh perjuangan. Tahun 2002, skenario film ini meraih Prince Claus Fund (Cinemart) dan Göteborg Film Fund (Pusan) di Festival Film Internasional Pusan dan Cinemart (Rotterdam). Meskipun sudah meraih penghargaan internasional, proses shooting baru bisa dilakukan setelah pihak pembuat berhasil mendapatkan dana dari Fond Sud Perancis pada 2005 dan Swiss Fund pada 2006. Karena merupakan produksi kerja sama antara Triximages, Salto Films dan Les Petites Lumières Perancis, proses produksi film ini dilakukan di Indonesia tapi mixing final dan final paska laboratoriumnya dikerjakan di Perancis. Adapun untuk lokasi pengambilan gambar, Semarang dipilih agar sesuai dengan kebutuhan cerita maupun artistik.
Sementara cerita The Photograph diilhami dari kunjungan Nan bersama Paquita Widjaja membesuk dosen sinematografinya yang terbaring sakit dan sekarat di tahun 1997. Sang dosen sempat menyampaikan satu keinginan terakhir dalam hidupnya untuk menyelesaikan buku tentang sinematografi bagi mahasiswa perfilman. Dari situ Nan mulai bertanya kepada dirinya sendiri tentang apa yang akan dilakukan untuk menutup buku kehidupan jika hanya mempunyai beberapa bulan lagi untuk hidup hingga sampai pada ide cerita The Photograph.
Lihat saja tokoh Johan (Lim Kay Tong), tukang foto keliling dalam film ini yang ingin memotret dirinya sendiri sebagai aksi terakhir dalam menutup kehidupannya, meskipun nyatanya foto terakhirnya malah diambil oleh Sita (Shanty), penyanyi karaoke bar dan pekerja seks. Orang yang dianggap paling tidak mungkin melakukan hal itu justru kemudian menjadi orang yang terpenting dalam saat-saat terakhir kehidupan Johan.
Melalui The Photograph, Nan Achnas memotret hubungan antar manusia dengan latar belakang identitas, kepercayaan, ras, dan budaya yang berbeda-beda di mana perbedaan itu hadir dan berinteraksi secara alami dalam keseharian kehidupan.
Dengan modal serba berbeda dan menjanjikan seperti itu, apakah film ini bisa menarik minat banyak penonton? Harusnya sih, tapi… Gak jadi ah. Semoga saja bisa sukses deh

Ikuti diskusi Ada 2 komentar untuk artikel ini.
astrid
gw udah nonton film ini lewat vcdnya yang udah dikeluarin akhir bulan 2007 kemaren. buat gw ini film yang bagus, dimana pentingnya hubungan batin antara tiap orang dijelaskan sangat erat dan merupakan suatu hal yang penting. sungguh film yang berbeda dengan film2 yang sekarang. bahkan mama saya bilang film2 seperti inilah yang bisa memperkaya batin.
January 24th, 2008 at 3:25 pm
toro
gW suka BNGT sm aktingny Lim Kay Tong, sEorang9 pHotogRapher keLiLin9 y9 gigih aNd Low pRofiLe, dAn gW suKa sama kAmera y9 dipake dia, jAdUL abis tP keRen,gW jD pn9eN nyoba tUh kAMer, kEbeTuLan gW j9 sEoran9 pHotoGraPher, wALauPun mSh aMAtiR, hEhEhE
March 13th, 2008 at 9:41 pm